LDII News

Aksi Nyata LDII Sikapi Global Warming

Posted on: Agustus 29, 2008

Aksi Nyata yang Terus Bergulir; Oleh: Agnes Swetta Pandia

Kegerahan masyarakat akan kerusakan lingkungan makin tak terbendung. Kini urusan lingkungan terutama menyangkut penghijauan dan pengolahan sampah, tak lagi dimonopoli oleh lembaga swadaya masyarakat. Lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, termasuk lembaga keagamaan, juga sudah melibatkan diri.

Sekolah pun mulai memberikan pengertian kepada siswa dari tingkat kelompok bermain hingga mahasiwa, minimal tidak membuang sampah sembarang tempat. Ibu rumah tangga pun tak mau ketinggalan, pemilahan sampah kering dan basah kian gencar dilakukan, meski masih agak merepotkan.

Kelompok PKK tingkat rukun tetangga secara rutin menggelar pelatihan bagi anggota agar bisa mengolah sampah mandiri. Miminal bisa membuat kompos dan dipakai untuk pupuk tanaman di rumah sendiri. Bahkan, umat Gereja Katolik Roh Kudus Rungkut, terus diingatkan agar memilah sampah serta mengolah sampah organik menjadi kompos. Menurut Rm Gregorius Kaha Svd, pengolahan sampah serta memilah sampah harus terus diingatkan. Tujuannya agar umat semakin peduli lingkungan.

Artinya gerakan “Mengubah Tulah menjadi Berkat” yang dicanangkan Keuskupan Surabaya dalam masa Pra-Paskah 2008 oleh Mgr Sutikno Wisaksono Pr pada Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2008 tidak sekadar slogan.

Gereja harus bisa menunjukkan kepekaan serta komitmennya terhadap kondisi lingkungan saat ini. Maka, mulai bulan Februari umat diajak mengubah perilaku menyangkut sampah melalui kepedulian akan lingkungan. Tahap awal saat masa APP umat diberikan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah serta yang akan melanda dunia jika pemanasan global tidak segera diatasi.

Supaya cita-cita mengubah tulah menjadi berkah melalui gerakan merdeka dari sampah berkelanjutan, semua lapisan masyarakat wajib terlibat. Mulai anak hingga orangtua harus memotivasi dirinya sendiri untuk peduli kebersihan. Sebab, jika sudah peduli kebersihan otomatis lingkungan pasti lestari.

Tindakan serupa menghadapi pemanasan global juga dilakukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Cabang Jatim. Langkah utama dengan mengurangi penggunaan kertas.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah LDII Jatim Chriswanto Santoso mengungkapkan, penghematan kertas secara tidak langsung merupakan upaya melestarikan lingkungan hidup, terutama kekayaan alam berupa hutan. Pasalnya, bahan baku kertas adalah kayu.

Selain itu, penghematan dan penjagaan kelestarian lingkungan hidup adalah ajaran agama yang harus dilaksanakan. Chriswanto menegaskan, masyarakat perlu kembali diingatkan akan pentingnya keseimbangan alam dan lingkungan hidup melalui perspektif moral serta agama. Kurangi kemasan plastik

Lembaga pendidikan pun tak mau ketinggalan soal upaya melestarikan lingkungan, seperti yang berlaku di SMA Trimurti, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya. Sejak Januari lalu seluruh pengelola kantin di sekolah tersebut disarankan mengurangi pemakaian plastik untuk membungkus makanan.

Aturannya memang makin ketat karena kue yang biasa dibungkus plastik kini disajikan dalam piring. Padahal, ketika jam istirahat anak-anak langsung bergerombol sehingga sulit diawasi.

Di beberapa tempat pun ditempel tulisan “Kurangi Penggunaan Kemasan Plastik”. “Kelihatannya roti atau kue dibungkus kertas minyak kok kurang menarik, tapi demi mengamankan lingkungan tidak masalah,” kata Tisya, siswa kelas X SMA Trimurti.

Sebenarnya siswa sempat tidak berselera melihat kue dibungkus dengan kertas minyak. Namun, tidak ada cara lain, termasuk dihidangkan dengan piring sehingga siswa bebas mengambil. “Memang kurang mantap kalau pisang goreng dibungkus kertas minyak karena lebih menarik jika memakai kemasan plastik,” kata Tisya.

Mengurangi penggunaan kemasan plastik, kaleng serta botol termasuk menghemat kertas, langkah awal menekan pemanasan global. Kendatipun hanya satu dari sejumlah faktor termasuk rumah kaca, sebagai pemicu memburuknya lingkungan. Sebab, plastik butuh waktu ratusan tahun agar terurai. Padahal, pemakaian plastik luar biasa hebatnya.

Berbagai lembaga pun gencar mengajak komunitasnya untuk peduli lingkungan. Spanduk bertuliskan “selamatkan lingkungan dengan mengurangi pemakaian palstik, kertas, botol dan kaleng” terpasang di beberapa lokasi.

Tidak hanya ajakan melestarikan lingkungan, tetapi juga memasang papan yang menunjukkan proses pemilahan sekaligus mengolah sampah. Dengan menempatkan papan pengumuman menyangkut pengolahan sampah di pintu masuk gereja, pasti menjadi perhatian umat.

“Ajakan jangan pernah berhenti, termasuk menyediakan tempat sampah di sekeliling kompleks gereja sesuai jenisnya, sehingga untuk buang sampah sembarang tempat jadi enggan,” kata Rm Gregorius Kaha.

Hampir setiap melakukan pembelian barang sekecil apa pun pemilik toko pasti membungkus dengan kantong plastik. Ibu rumah tangga, misalnya, setiap belanja ke warung kantong plastik yang dibawa ke rumah sama jumlahnya dengan jenis belanjaan.

“Jika saya membeli sembilan jenis barang, kantong plastik yang diperoleh juga sembilan. Pedagang tidak peduli apa kantong penuh atau tidak,” kata Ny Wiwik (53), ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Mayjen Soengkono. Bahkan, pembeli juga senang jika mendapat kantong plastik banyak sehingga bisa dipakai ulang sebagai tempat sampah. Gerakan melestarikan lingkungan memang berat jika tidak dilakukan bersama. Namun, sekecil apa pun andil masyarakat dalam mengamankan lingkungan dampaknya pasti dapat dirasakan.

Seperti mengurangi penggunaan bahan plastik, kertas, kaleng, dan kaca dalam kehidupan sehari-hari, langkah nyata untuk melestarikan lingkungan. Penanaman berbagai jenis pohon di sekitar tempat tinggal, juga sebagai bukti kepedulian terhadap lingkungan.

Memang mengubah prilaku, seperti memilah sampah atau mengurangi pemakaian kemasan plastik, tidak mudah. Misalnya barang belanjaan dibungkus kertas atau daun pisang, bahkan daun jati seperti dahulu kala, tampaknya tidak mungkin pada masa sekarang.

Selain daun pisang dan daun jati sulit diperoleh, konsumen terutama ibu rumah tangga kurang berkenan. Jika ingin negeri ini terhindar dari pemanasan global dengan cuaca yang semakin sulit diprediksi, saatnya bagi ibu rumah tangga berani menolak kemasan plastik.

Pilihan utama bungkus makanan, selain plastik, adalah kertas. Pemakaian kertas agak lebih menguntungkan ketimbang bahan lain karena mudah lebur. Sudah saatnya genderang anti kemasan plastik ditabuh. Konsekuensi dari gerakan ini, masyarakat, terutama kaum perempuan, harus siap dengan perubahan pembungkus barang belanjaan dari kertas.

Siapkah? Jika ya, minimal sampah plastik yang mendominasi gunung sampah di Tempat Pembuangan Sampah Benowo akan terus menyusut. (sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/04/14/1740417)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Agustus 2008
S S R K J S M
    Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 12,038 hits
%d blogger menyukai ini: